Kamis, 19 Januari 2017

APA ITU PAYTREN











“Cara kerja paytren itu gimana sih?”

“Jalanin Paytren itu gimana?”

“Bisnis Paytren itu apa sih ya? “

” Paytren Yusuf Mansur apa ya ngga ngerti saya “

dan sejumpah pertanyaan yang sering saya dengar dari orang-orang yang belum mengenal tentang paytren. Oke,
Saya mau share tentang pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan oleh orang yang baru tahu tentang info paytren. Mungkin juga seperti ANDA yang tak sengaja menemukan website aplikasipaytren.com ini. Pertannyaan yang sering diajukan adalah: ” Cara Kerja Paytren Itu Gimana ” ?  Mungkin lebih tepatnya cara menggunakan paytren bukan cara kerja. Mungkin karena paytren itu mempunyai nilai bisnis ada peluang bisnis paytren yang bisa dijalankan dan juga karena sistem marketing yang menggunakan sistem jaringan atau orang lebih mengenal dengan MLM jadi sudah lebih sering menggunakan kalimat seperti judul di atas.
Jawaban dari pertanyaan diatas itu sangat simpel dan sederhana. Berikut sedikit penjelasan mengenai cara kerja paytren. Dan semoga mencerahkan.

Cara kerja Paytren/Menggunakan paytren:

1. Mengalihkan rutinitas aktifitas beli pulsa atau bayar tagihan dari yang biasanya beli pulsa di konter atau bayar-bayar tagihan di loket-loket PPOB beralih menggunakan paytren dengan cara yang mudah dan
simpel.Semisal anda mau bayar tagihan listrik PLN Pasca sedangkan lokasi loket anda berjarak 1km dari rumah, maka anda tentu butuh waktu buat pergi ke lokasi PPOB, butuh tenaga, butuh bensin jika pakai motor, kadang justru keluar biaya tak terduga misalnya anak minta beli jajan karena bawa anak misalnya dll.
Nah dengan bayar #pakaipaytren anda cukup bayar dari rumah saja, bisa pagi, siang ataupun malam. Kapapun dan dimanapun anda bisa cek jumlah tagihan rutin bulanan anda, Telkom, Listrik PAscabayar, TV bernayar, tagihan kartu halo, Tagihan PDAM dan lain-lain sebagainya. Bukankan ini sudah menghemat waktu? artinya lebih efisien waktu? dan apalagi sebagai contoh biaya admin untuk bayar listrik Pasca PLN #pakaipaytren itu hanya Rp.1.800 saja dapat cashback pula..hmm lebih hemat lebih murah bukan?
2. Cara kerja yang kedua adalah AJAK  ORANG LAIN SEBANYAK-BANYAKNYA untuk melakukan seperti yang anda lakukan yaitu menggunakan teknologi software paytren yang terinstal berupa aplikasi paytren android di handphone smartphone anda. Dari aktifitas mengajak orang itu maka anda berhak akan komisi dan juga rewards yang disediakan oleh perusahaan PT. Veritra Sentosa Internasional.
CARA KERJA PAYTREN SIMPEL BUKAN?
Itu sedikit penjelasan mengenai Cara Kerja Paytren. Oya sedikit renungan buat kita bersama: {nama} pernah alamai jaman warung telkom atau wartel? sebelum ada HP orang mau telpon pergi ke wartel dan bisnis wartel menjamur dimana-mana.  Setelah ada HP dan didapat dengan harga murah BISNIS WARTEL AKHIRNYA MATI. Sekarang karena perkembangan jaman orang mau bayar tagihan beli pulsa atau belanja sudah mulai beralih menggunakan uang digital melalui Mobile banking ataupun paytren. Nah sampai kapan bisnis usaha konter atau Loket PPOB akan bertahan? Menurut saya jika pemilik usaha konter atau PPOB tak kreatif dan tidak dikombinasikan dengan usaha lain maka saya yakin lama-kelamaan omset akan sepi dan akhirnya berakhir seperti usaha wartel yang sudah menjadi contoh.
Oke ini sedikit share..
apakah anda siap untuk melakukan perubahan? apakah anda siap beralih menggunakan paytren? Jika anda belum mampu untuk daftar menjadi mitra pebisnis dengan biaya minimal 350.000 ( paket basic ) maka anda bisa mulai dengan paket mitra pengguna hanya Rp. 50.000 ( sudah termasuk paytren messenger ). Murah dan mudah bukan?
Sumber : http://www.aplikasipaytren.com

Senin, 26 Desember 2016

Bahasa sunda






FAKTA SEJARAH ASAL-USUL BAHASA SUNDA DAN PERKEMBANGANNYA 

Bahasa Sunda merupakan bahasa yang diciptakan dan digunakan oleh orang Sunda dalam berbagai keperluan komunikasi kehidupan mereka. Tidak diketahui kapan bahasa ini lahir, tetapi dari bukti tertulis yang merupakan keterangan tertua, berbentuk prasasti berasal dari abad ke-14. Prasasti dimaksud di temukan di Kawali Ciamis, dan ditulis pada batu alam dengan menggunakan aksara dan Bahasa Sunda (kuno). Diperkirakan prasasti ini ada beberapa buah dan dibuat pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana (1397-1475).


Salah satu teks prasasti tersebut berbunyi “Nihan tapak walas nu siya mulia, tapak inya Prabu Raja Wastu mangadeg di Kuta Kawali, nu mahayuna kadatuan Surawisésa, nu marigi sakuliling dayeuh, nu najur sakala désa. Ayama nu pandeuri pakena gawé rahayu pakeun heubeul jaya dina buana” (inilah peninggalan mulia, sungguh peninggalan Eyang Prabu Adipati Wastukentjana yang bertakhta di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan sekeliling ibukota, yang menyejahterakan seluruh negeri. Semoga ada yang datang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia). Dapat dipastikan bahwa Bahasa Sunda telah digunakan secara lisan oleh masyarakat Sunda jauh sebelum masa itu. Mungkin sekali Bahasa Kw’un Lun yang disebut oleh Berita Cina dan digunakan sebagai bahasa percakapan di wilayah Nusantara sebelum abad ke-10 pada masyarakat Jawa Barat kiranya adalah Bahasa Sunda (kuno), walaupun tidak diketahui wujudnya.


Bukti penggunaan Bahasa Sunda (kuno) secara tertulis, banyak dijumpai lebih luas dalam bentuk naskah, yang ditulis pada daun (lontar, enau, kelapa, nipah) yang berasal dari zaman abad ke-15 sampai dengan 180. Karena lebih mudah cara menulisnya, maka naskah lebih panjang dari pada prasasti. Sehingga perbendaharaan katanya lebih banyak dan struktur bahasanya pun lebih jelas. Contoh bahasa Sunda yang ditulis pada naskah adalah sebagai berikut: Berbentuk prosa pada Kropak 630 berjudul Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518) “Jaga rang héés tamba tunduh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kajongjonan. Yatnakeun maring ku hanteu” (Hendaknya kita tidur sekedar penghilang kantuk, minum tuak sekedar penghilang haus, makan sekedar penghilang lapar, janganlah berlebih-lebihan. Ingatlah bila suatu saat kita tidak memiliki apa-apa!) Berbentuk puisi pada Kropak 408 berjudul Séwaka Darma (abad ke-16) “Ini kawih panyaraman, pikawiheun ubar keueung, ngaranna pangwereg darma, ngawangun rasa sorangan, awakaneun sang sisya, nu huning Séwaka Darma” (Inilah Kidung nasihat, untuk dikawihkan sebagai obat rasa takut, namanya penggerak darma, untuk membangun rasa pribadi, untuk diamalkan sang siswa, yang paham Sewaka Darma).


Tampak sekali bahwa Bahasa Sunda pada masa itu banyak dimasuki kosakata dan dipengaruhi struktur Bahasa Sanskerta dari India. Setelah masyarakat Sunda mengenal, kemudian menganut Agama Islam, dan menegakkan kekuasaan Agama Islam di Cirebon dan Banten sejak akhir abad ke-16. Hal ini merupakan bukti tertua masuknya kosakata Bahasa Arab ke dalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda. Di dalam naskah itu terdapat 4 kata yang berasal dari Bahasa Arab yaitu duniya, niyat, selam (Islam), dan tinja (istinja). Seiring dengan masuknya Agama Islam kedalam hati dan segala aspek kehidupan masyarakat Sunda, kosa kata Bahasa Arab kian banyak masuk kedalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda dan selanjutnya tidak dirasakan lagi sebagai kosakata pinjaman. Kata-kata masjid, salat, magrib, abdi, dan saum, misalnya telah dirasakan oleh orang Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya sendiri. Pengaruh Bahasa Jawa sebagai bahasa tetangga dengan sesungguhnya sudah ada sejak Zaman Kerajaan Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya. Paling tidak pada abad ke-11 telah digunakan Bahasa dan Aksara Jawa dalam menuliskan Prasasti Cibadak di Sukabumi.


Begitu pula ada sejumlah naskah kuno yang ditemukan di Tatar Sunda ditulis dalam Bahasa Jawa, seperti Siwa Buda, Sanghyang Hayu. Namun pengaruh Bahasa Jawa dalam kehidupan berbahasa masyarakat Sunda sangat jelas tampak sejak akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 sebagai dampak pengaruh Mataram memasuki wilayah ini. Pada masa itu fungsi Bahasa Sunda sebagai bahasa tulisan di kalangan kaum elit terdesak oleh Bahasa Jawa, karena Bahasa Jawa dijadikan bahasa resmi dilingkungan pemerintahan. Selain itu tingkatan bahasa atau Undak Usuk Basa dan kosa kata Jawa masuk pula kedalam Bahasa Sunda mengikuti pola Bahasa Jawa yang disebut Unggah Ungguh Basa. Dengan penggunaan penggunaan tingkatan bahasa terjadilah stratifikasi social secara nyata. Walaupun begitu Bahasa Sunda tetap digunakan sebagai bahasa lisan, bahasa percakapan sehari-hari masyarakat Sunda.


Bahkan di kalangan masyarakat kecil terutama masyarakat pedesaan, fungsi bahasa tulisan dan bahasa Sunda masih tetap keberadaannya, terutama untuk menuliskan karya sastera WAWACAN dengan menggunakan Aksara Pegon. Sejak pertengahan abad ke 19 Bahasa Sunda mulai digunakan lagi sebagai bahasa tulisan di berbagai tingkat sosial orang Sunda, termasuk penulisan karya sastera. Pada akhir abad ke 19 mulai masuk pengaruh Bahasa Belanda dalam kosakata maupun ejaan menuliskannya dengan aksara Latin sebagai dampak dibukanya sekolah-sekolah bagi rakyat pribumi oleh pemerintah. Pada awalnya kata BUPATI misalnya, ditulis boepattie seperti ejaan Bahasa Sunda dengan menggunakan Aksara Cacarakan (1860) dan Aksara Latin (1912) yang dibuat oleh orang Belanda.


Selanjutnya, masuk pula kosakata Bahasa Belanda ke dalam Bahasa Sunda, seperti sepur, langsam, masinis, buku dan kantor. Dengan diajarkannya di sekolah-sekolah dan menjadi bahasa komunikasi antar etnis dalam pergaulan masyarakat, Bahasa Melayu juga merasuk dan mempengaruhi Bahasa Sunda. Apalagi setelah dinyatakan sebagai bahasa persatuan dengan nama Bahasa Indonesia pada Tahun 1928. Sejak tahun 1920-an sudah ada keluhan dari para ahli dan pemerhati Bahasa Sunda, bahwa telah terjadi Bahasa Sunda Kamalayon, yaitu Bahasa Sunda bercampur Bahasa Melayu.


 Sejak tahun 1950-an keluhan demikian semakin keras karena pemakaian Bahasa Sunda telah bercampur (direumbeuy) dengan Bahasa Indonesia terutama oleh orang-orang Sunda yang menetap di kota-kota besar, seperti Jakarta bahkan Bandung sekalipun. Banyak orang Sunda yang tinggal di kota-kota telah meninggalkan pemakaian Bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari di rumah mereka. Walaupun begitu, tetap muncul pula di kalangan orang Sunda yang dengan gigih memperjuangkan keberadaan dan fungsionalisasi Bahasa Sunda di tengah-tengah masyarakatnya dalam hal ini Sunda dan Jawa Barat. Dengan semakin banyaknya orang dari keluarga atau suku bangsa lain atau etnis lain yang menetap di Tatar Sunda kemudian berbicara dengan Bahasa Sunda dalam pergaulan sehari-harinya. Karena itu, kiranya keberadaan Bahasa Sunda optimis bakal terus berlanjut. 


Sumber : https://pusatbahasaalazhar.wordpress.com/2010/09/02/fakta-sejarah-asal-usul-bahasa-sunda-dan-perkembangannya/comment-page-1/

Minggu, 25 Desember 2016

Sejarah motor honda



Honda berdiri pada akhir 1940an, ketika Jepang masih berupaya membangun negaranya kembali setelah Perang Dunia ke-2. Soichiro Honda, founder perusahaan ini sebelumnya memiliki pabrik pembuatan piston ring, sebelum kemudian memfokuskan perhatiannya pada sepeda motor berharga murah. Soichiro Honda selalu memiliki passion dalam bidang engineering, membuatnya sukses membuat motor best seller di tahun 1960an dan berkompetisi di kejuaraan balap motor kelas dunia. Saat ini Honda telah menjadi raksasa otomotif dunia, menawarkan mesin motor juara dalam berbagai kategori. Bagaimana napak tilas Honda sebelum jadi seperti sekarang? Kisahnya dapat Sobat Honda simak dalam rincian berikut.

1906: Soichiro Honda lahir di Hamamatsu, Jepang. Ayahnya adalah seorang pandai besi yang juga memiliki bengkel sepeda. Soichiro Honda muda pun menunjukkan kesukaan pada dunia mesin dengan bergabung bersama bengkel otomotif yang cukup tenar di Tokyo.
1928: Soichiro kembali ke Hamamatsu untuk membuka bengkel perbaikannya sendiri. Karena tergila-gila pada kecepatan, Honda pun membangun mobil balapnya sendiri.
1936: Soichiro mengalami kecelakaan saat mengikuti balap mobil dan terluka.
1937: Soichiro membangun pabrik piston ring miliknya sendiri. Dia berjuang keras mendirikan pabrik ini. Untuk belajar mengenai teknik pembuatan piston ring, Honda memutuskan untuk melanjutkan pendidikan yang dulu ditinggalkannya saat berusia 15 tahun. Pabriknya menjadi salah satu supplier utama piston ring Toyota yang saat itu juga mulai membangun pabrik mobil.
1946: Soichiro menjual pabrik piston ring-nya. Jepang saat itu sedang berjuang memulihkan dirinya setelah serang bom di Perang Dunia ke-2. Pada periode itu, Honda sadar bahwa masyarakat membutuhkan alat transportasi yang dapat diandalkan. Dari situ Honda merakit sepeda dengan mesin 2-tak yang diambilnya dari mesin pemancar radio bekas.
1948: Honda Motor Co. Ltd terbentuk. Soichiro Honda berfokus pada pembuatan mesin motor, sedangkan Takeo Fujisawa, kawannya, berfokus pada operasi keuangan.
1949: Honda Motor Co. Ltd memproduksi motor pertamanya yang dibekali mesin 2-tak berkapasitas 98 cc. Ketika seorang pekerja melihat motor itu selesai dirakit dan dipakai untuk pertama kali diluar pabrik, pekerja itu mengatakan, “It’s like a dream”. Akhirnya nama “Dream” diambil untuk menamakan motor ini, yang secara resmi dikenal sebagai Model D.
1951: Soichiro merasa terganggu dengan suara dan bau yang ditimbulkan mesin motor 2-tak yang memenuhi jalanan di kota-kota Jepang kala itu. Perusahaan kemudian membuat Dream E, motor 4-tak pertamanya yang berkapasitas mesin 146 cc.
1952: Mengabaikan fakta bahwa dia tidak menyukai mesin “primitif” yang ada pada motornya, Soichiro mengembangkan mesin motor untuk sepeda. Seri Cub F dengan mesin 2-tak berkapasitas 50 cc terjual ke ribuan toko sepeda di Jepang, membuat Cub menjadi trademark dan bertahan hingga kini meski telah melewati beberapa dekade.
1953: Motor dengan mesin 4-tak berkapasitas 90 cc, Benly J, dirilis Honda. Motor seri Benly bertahan cukup lama dan terus mengalami perbaikan. Motor ini juga sempat populer di kalangan pembalap amatir Jepang.
1954: Soichiro berusaha untuk kembali mewujudkan mimpi lamanya, memenangkan kejuaraan balap sepeda motor. Untuk itu, Soichiro bergabung sebagai peneliti di balapan Isle of Man dan menaruh perhatiannya pada motor NSU buatan Jerman yang mendominasi kelas 125 dan 250 cc.
1957: MV Agusta, Gilera, dan Mondial, pabrikan terkemuka Italia, menyatakan pengunduran diri mereka dari kejuaraan dunia balap motor. Honda kemudian membeli satu motor balap terakhir milik Mondial, menjadikannya sumber inspirasi dan contoh untuk menemukan standar yang harus mereka capai untuk membuat motor balap.
1958: The Super Cub (yang juga dikenal sebagai C100, CA100, dan Honda 50) laris di pasaran. Motor ini seperi ditakdirkan untuk laku keras dipasaran meski terus berganti nama. Mesin yang diadopsinya pun terus meningkat, dari 500 cc menjadi 70 cc, dan akhirnya jadi 90 cc. Super Cub kini jadi kendaraan bermotor paling populer sepanjang masa.
1959: Honda memasuki balapan Isle of Man TT untuk pertama kalinya. Perusahaan ini mendaratkan lima mesin pada kelas 125cc. Naomi Tanaguchi meraih hasil terbaik dengan finisih di urutan ke-6. Honda juga memenangkan trofi pabrikan terbaik pada kelas tersebut. DI tahun ini pula, American Honda Motor Co. didirikan di Los Angeles, Amerika Serikat.
1961: Honda mendominasi kelas 125cc dan 250cc di TT. Mike Hailwood memenangkan kedua balapan, membuat Honda finish di urutan pertama.
1963: Tahun ini, Honda fokus pada balap mobil F1, membuat program balap motor merana. Meski begitu, penjualan motor tetap stabil, terutama setelah Super Cub memeroleh banyak prestasi dan penghargaan di berbagai negara, baik sebagai sepeda motor terbaik maupun sebagai produk dengan promosi terbaik.
1964: Motor 2-tak mulai mendominasi balap motor di kelas menengah. Untuk tetap kompetitif di kelas 250cc, dengan tetap bertahan pada motor 4-tak, Honda memproduksi mesin 3RC164 dengan enam silinder. Mesin ini membuat Honda tampil memukau, tapi tak cukup untuk menjuarai seri tersebut.
1968: 19 tahun setelah motor keluaran pertamanya dirilis, Honda telah memproduksi lebih dari 10 juta motor.
1969: Honda merilis CB750 di Tokyo Motor Show dan laris di pasaran pada awal 1969. Motor ini banyak digunakan pada sand-cast.
1970: Honda mendaftarkan empat pembalap untuk mengikuti Daytona 200, tapi hanya Dick Mann seorang yang mampu menyelesaikan balapan dengan kemenangan. Itu adalah kemenangan besar Honda di Amerika. Di tahun ini, Honda mendirikan Honda Racing Service Center dan secara resmi mengeluarkan CB750 Racing Type.
1972: Untuk tetap kompetitif di kelas 250cc, Honda akhirnya membuat motor dengan mesin 2-tak lagi. CB250R “Elsinore” adalah hasilnya. Motor ini menjadi motor balap terefektif di kelasnya, membuat Gary Jones memenangkan AMA Motorcross Championship di tahun pertama balapannya.
1973: Soichiro mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden. Dia tetap berada di jajaran direktur, dan mendapatkan titelnya sebagai Supreme Advisor pada tahun 1983.
1974: Seri motor Gold Wing, GL1000, diluncurkan pertama kali. Motor ini adalah motor 4-tak pertama dengan teknologi water-cooled dan pompa bahan bakar.
1978: Dalam upaya membuat sebuah motor 4-tak yang kompetitif di World Championship kelas 500GP, Honda mulai memproduksi oval-piston NR500. Motor ini digunakan pada musim 1981, tapi belum cukup untuk membuat Honda memenangkan kejuaraan.
1981: Produksi motor Honda Gold Wing berpindah dari Jepang menuju pabrik baru di Ohio.
1983: Untuk pertama kalinya, Honda memenangkan kejuaraan dunia kelas 500cc melalui Freddie Spencer. Meski ini bukan kemenangan Honda sebagai pabrikan yang pertama, prestasi ini cukup menggembirakan.
1987: CBR600F Hurricane, motor full fairing pertama Honda resmi diluncurkan. Motor ini dibekali empat silinder.
1991: Perusahaan berduka atas kematian Soichiro Honda.
1992: 200 unit motor legendaris NR750 diproduksi. Motor ini dijual dengan harga fantastis, mencapai 60 ribu dolar.
1993: CBR900R membuat dunia sportbike takjub dengan kehadirannya. Didesain oleh Tadao Baba, “Fireblade” mengombinasikan kekuatan layaknya motor open-class tapi dengan berat dan grip layaknya motor 600cc.
2001: Valentino Rossi memenangkan kejuaraan balap motor dunia kelas 500cc dengan NSR500 bermesin 2-tak. Dia menjadi pembalap terkahir yang memenangkan balapan dengan mesin tersebut.
2002: Semua berubah, namun Rossi tetap mampu memenangkan MotoGP dengan motor RC211V kelas 990cc, 5-silinder, dan 4-tak.
2004: Honda membuat prototipe motor bertenaga sel surya.
2006: 50 juta Super Cup terjual, membuatnya jadi motor terlaris di dunia.
2007: Honda menjadi pabrikan pertama yang menawarkan sepeda motor dengan perlindungan air bag.
2011: Untuk mengejar segmen pengendara pemula, CBR250R diciptakan. Dilengkapi mesin 249cc dengan satu silinder, CBR yang diproduksi dari Thailand laku keras dan terjual ke seluruh dunia.

Sumber : maticaddicts.com

Sejarah sunda

A. Mencari Sejarah Sunda dengan Dua Perahu
SUDAH sejak tahun 1950-an orang Sunda gelisah dengan sejarahnya. Lebih-lebih generasi sekarang, mereka selalu mempertanyakan, betulkah sejarah Sunda seperti yang diceritakan orang-orang tua mereka? Katanya, kekuasaannya membentang sejak Kali Cipamali di timur terus ke barat pada daerah yang disebut sekarang Jawa Barat dengan Prabu Siliwangi sebagai salah seorang rajanya yang bijaksana. Betulkah? Sejarah Sunda memang tidak banyak berbicara dalam percaturan sejarah nasional. “Yang diajarkan di sekolah, paling hanya tiga kalimat,” kata Dr Edi Sukardi Ekadjati, peneliti, sejarawan dan Kepala Museum Asia Afrika di Bandung. Isinya singkat saja hanya mengungkap tentang Kerajaan Sunda dengan Raja Sri Baduga di daerah yang sekarang disebut Jawa Barat, lalu runtuh.
Padahal, kerajaan dengan corak animistis dan hinduistis ini sudah berdiri sejak abad ke-8 Masehi dan berakhir eksistensinya menjelang abad ke-16 Masehi. Kisah-kisahnya yang begitu panjang, lebih banyak diketahui melalui cerita lisan sehingga sulit ditelusuri jejak sejarahnya. Tetapi ini tidak berarti, nenek moyang orang Sunda di masa lalu tidak meninggalkan sesuatu yang bisa dilacak oleh anak cucunya karena kecakapan tulis-menulis di wilayah Sunda sudah diketahui sejak abad ke-5 Masehi. Ini bisa dibuktikan dengan prasasti-prasasti di masa itu.
Memang peninggalan karya tulis berupa naskah di masa itu hingga kini belum dijumpai. Tetapi setelah itu ditemukan naskah kuno dalam bahasa dan huruf Sunda Kuno, yakni naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian yang selesai disusun tahun 1518 M dan naskah Carita Bujangga Manik yang dibuat akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16. Suhamir, arsitek yang menaruh minat besar dalam sejarah Sunda menjuluki naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian sebagai “Ensiklopedi Sunda”.
Naskah-naskah lainnya adalah Cariosan Prabu Siliwangi (abad ke-17 atau awal abad ke-18), Ratu Pakuan, Wawacan Sajarah Galuh, Babad Pakuan, Carita Waruga Guru, Babad Siliwangi dan lainnya.
NASKAH Sanghyang Siksa Kana Ng Karesian dan Carita Bujangga Manik disusun pada zaman Kerajaan Sunda-Pajajaran masih ada dan berkembang. Karena itu, dilihat dari kacamata sejarah, kedua naskah tersebut bisa jadi sumber primer. Sedangkan naskah-naskah lainnya yang disusun setelah Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh termasuk sumber sekunder. Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh pada tahun 1579.
Kedua naskah tersebut ditulis dengan bahasa dan huruf Sunda Kuno. Sedangkan naskah lainnya ada yang ditulis dengan bahasa dan huruf Jawa, bahasa dan huruf Arab, bahasa Jawa-Sunda atau huruf Jawa tapi bahasanya bahasa Sunda seperti naskah Carita Waruga Guru dan bahasa Melayu dan huruf Latin. Sampai tahun 1980-an, pembuatan naskah Sunda masih terus berlangsung meskipun dalam bentuk penyalinan.
Naskah Siksa Kanda Ng Karesian dan Carita Bujangga Manik ditulis di atas daun lontar dan daun palem. Naskah-naskah lainnya ada pula yang ditulis di daun nipah, daun enau atau daun kelapa. Cara menulisnya dikerat/digores dengan menggunakan alat yang disebut peso pagot, sejenis pisau yang ujungnya runcing. Sedangkan naskah-naskah yang lebih muda menggunakan kertas sebagai pengganti daun dan ditulis dengan menggunakan tinta.

Sebagian naskah-naskah itu ada yang tersimpan di museum baik di dalam maupun di luar negeri. Tetapi sebagian besar lainnya disimpan di rumah penduduk atau tempat-tempat tertentu yang dikeramatkan karena naskah dianggap sebagai barang sakral. Pemegangnya juga orang tertentu saja.
Karena cara penyimpanan yang tidak memenuhi syarat, adakalanya naskah rusak berat sehingga tidak bisa terbaca lagi. Naskah di Lengkong, Kuningan misalnya, tahun 1982 masih bisa dibaca. “Tetapi ketika saya datang lagi ke sana pada tahun 1987, naskah sudah tidak bisa direkontruksi lagi,” keluh Ekadjati.
Tetapi ada juga naskah-naskah yang sudah tidak disimpan dengan baik karena ahli warisnya merasa tidak mempunyai kepentingan lagi. Di Banjaran, sebuah daerah yang letaknya di Bandung Selatan, naskah yang mereka miliki disimpan di kandang ayam karena rumah sedang dibongkar. Atau ada pula yang menyimpannya di atas langit-langit dapur, sehingga warnanya menjadi kuning kehitam-hitaman.
Dengan cara penyimpanan seperti itu, apalagi berasal dari bahan-bahan yang mudah lapuk, dalam beberapa tahun saja tidak mustahil naskah-naskah tersebut tidak akan berbekas lagi, sebelum diteliti. Setelah terlambat, baru kemudian kita menyadari telah kehilangan sejarah atau kekayaan budaya…
Sebelum pengalaman pahit ini terjadi, Edi S Ekadjati dengan bantuan Toyota Foundation kemudian mengabadikannya dalam bentuk mikro film. Sekarang, sekitar 2000 naskah dari mikro film tersebut dimasukkan ke komputer sehingga suatu saat, bisa dibuat katalog yang lebih lengkap. Ini melengkapi katalog naskah Sunda yang sudah ada sekarang, yang memuat 1904 naskah.
DARI sejumlah naskah tersebut, 95 naskah ditulis dalam huruf Sunda Kuno, 438 ditulis dalam huruf Sunda-Jawa, 1.060 ditulis dengan huruf Arab (Pegon) dan 311 naskah lainnya ditulis dengan huruf Latin. Selain itu masih ada 144 naskah yang menggunakan dua macam aksara atau lebih, yakni Sunda-Jawa, Arab dan Latin.

Dilihat dari jenis karangannya, naskah sejarah hanyalah sekitar 9 persen dan naskah sastra sejarah 12 persen. Sebagian besar lainnya, 25 persen berupa naskah sastra, dan naskah agama 15 persen. Sayang, walaupun jumlahnya banyak, baru sedikit sekali yang diteliti. Eddi S. Ekadjati memperkirakan baru sekitar 100-125 judul saja yang diteliti. Ini berarti, tantangan untuk para peneliti dalam meneliti sejarah Sunda masih sangat besar.
Penelitian tersebut, menurut Edi S. Ekajati, idealnya dilakukan dulu secara filologis karena ilmu yang menggarap naskah itu ialah filologi. Baru kemudian hasil suntingan filolog tersebut dijadikan obyek atau bahan studi ilmu-ilmu lain sesuai dengan jenis isi naskahnya. Sulitnya, sangat sedikit filolog yang tertarik terhadap naskah Sunda.
Belum lagi, lebih sedikit lagi yang bisa membaca huruf Sunda Kuno — itupun sebagian diantaranya berasal dari disiplin lain. Atja dan Saleh Danasasmita misalnya, keduanya sudah meninggal. Sedangkan lainnya Ayatrohaedi dan Hasan Djafar (arkeologi) lalu Kalsum dan Undang A Darsa. Edi S Ekadjati sebenarnya berlatar belakang sejarah. Tetapi karena minatnya yang besar terhadap sejarah Sunda, akhirnya mengharuskan ia mendalami filologi, sehingga dia acapkali dijuluki “berada di dua perahu”. Dia mengakui, karena terbatasnya filolog yang berminat, maka jika seseorang ingin mengetahui sejarah Sunda maka ia harus berada “di dua perahu”.
SEJARAH Sunda sangat boleh jadi berbeda dibanding sejarah etnis lain di Indonesia karena daerah ini tidak banyak mewariskan peninggalan berupa prasasti atau candi, tetapi lebih banyak berupa naskah yang kini tersimpan di museum atau tempat-tempat lainnya. Di Perpustakaan Nasional saja misalnya, terdapat 89 naskah Sunda Kuno sedangkan yang sudah dikerjakan barulah tujuh naskah.
Tetapi dari sedikit naskah itu, menurut Edi S. Ekadjati, ternyata sudah memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap sejarah Sunda. Baik mengenai daftar raja yang memerintah dan masa pemerintahannya serta peristiwa-peristiwa sekitar yang terjadi pada saat itu, sehingga walaupun belum secara lengkap sudah bisa disusun raja-raja Sunda yang memerintah selama kurang lebih 800 tahun. Yakni, sejak Sanjaya yang memerintah pada abad ke-8 sampai Raja Sunda terakhir pada tahun 1579. Bahkan dengan naskah Siksa Kanda Ng Karesian yang ditulis pada masa Sri Baduga Maharaja, diketahui beberapa aspek kebudayaan Sunda saat itu. Sri Baduga Maharaja,dalam cerita rakyat diidentikkan dengan Prabu Siliwangi.
Jalan untuk menyingkap tabir sejarah Sunda masih panjang. Di Perpustakaan Nasional saja, masih 82 naskah lagi yang belum digarap. Walau demikian, Edi S Ekadjati optimis, suatu saat sejarah Sunda bisa disusun lebih lengkap dan jelas. Salah satu harapannya diletakkan pada jerih payah Ali Sastramidjaja atau Abah Ali, seorang peminat sejarah Sunda, yang kini sedang menggarap naskah Ciburuy bersama teman-temannya.
B. Sejarah Pasundan mulai terkuak
Prasasti koleksi Museum Adam Malik Jakarta, ikut memperkuat dugaan adanya kesinambungan Kerajaan Pasundan dengan Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah. Bahkan bila dikaitkan dengan temuan-temuan prasasti di Jawa Barat termasuk temuan tahun 90-an, prasasti ini ikut memberi titik terang sejarah klasik di Tanah Pasundan yang selama ini masih gelap.
Kepala Bidang Arkeologi Klasik pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) Dr Endang Sri Hadiati didampingi peneliti arkeologi spesialis Sunda, Richadiana Kartakusuma SU, mengemukakan itu saat ditemui Kompas di ruang kerjanya di Jakarta, Senin (20/2). Keduanya ditemui dalam kaitan dengan Sejarah Klasik Sunda yang selama ini masih gelap, bila dibanding dengan sejarah klasik di Jawa Tengah, yang telah mampu memberikan sejarah lebih runtut.
Bila benar dugaan adanya kesinambungan antara Raja Sunda dan Jawa Tengah ini, maka ini merupakan asumsi sejarah baru dalam perkembangan sejarah nasional selama ini. Endang Sri Hadiati menyatakan, kesinambungan atau adanya dugaan hubungan antara Kerajaan Pasundandan kerajaan di Jawa Tengah itu disebut-sebut dalam lontar Carita Parahiyangan yang ditemukan Ciamis, Jawa Barat.
Lontar yang ditemukan tahun 1962 ini mengisahkan tentang raja-raja Tanah Galuh Jawa Barat. Salah satu lontar dari Carita Parahiyangan yang belum diketahui angka tahunnya itu di antaranya menyebut nama Sanjaya sebagai pencetus generasi baru yang dikenal dengan Dewa Raja.
Apa yang disebut dalam Carita Parahiyangan, menurut Richadiana, ada kesamaan makna dengan prasasti yang ditemukan di Gunung Wukir, yang berada di antara daerah Sleman dan Magelang (Jawa Tengah). Prasasti batu abad VII yang kemudian disebut sebagai Prasasti Canggal itu secara jelas menyebut, bahwa di wilayah itu telah berdiri wangsa atau kerajaan baru dengan Sanjaya nama rajanya, atau dikenal kemudian sebagai Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.
“Saya belum berani memastikan adanya kesinambungan Raja Sunda dan Jawa. Yang pasti, Carita Parihiyangan yang berisi tentang cerita raja-raja Galuh itu, salah satunya menyebut nama Sanjaya yang membuat kerajaan baru, dan itu sama persis yang disebutkan dalam prasasti Canggal di Jawa Tengah,” tegas Richadiana.
Menurut Richadiana, dugaan itu diperkuat pula dengan prasasti yang dikoleksi oleh Adam Malik (almarhum), yang dikenal dengan prasasti Sragen (ditemukan di Sragen Jateng). Richadiana tidak tahu persis kapan prasasti itu dikoleksi Adam Malik. Yang pasti, prasasti itu isinya juga bisa menjadi fakta adanya dugaan kesinambungan antara Kerajaan Pasundan dan Jawa.
Dua abad hilang
Endang Sri Hadiati dan Richadiana mengakui, sejarah Pasundan memang masih gelap, artinya belum mempunyai alur sejarah yang mendekati pasti. “Tonggak sejarah klasik Jawa Barat hanya pada 6 buah prasasti Raja Tarumanegara sekitar abad V. Temuan prasati lain tidak mendukung adanya kelanjutan sejarah, karena selisih waktunya berabad-abad,” tandasnya.
Namun begitu, jika dicermati dan dikaitkan dengan temuan tahun 90-an ini, sebenarnya hanya rentang waktu dua abad saja sejarah Klasik Sunda yang hilang, bila dihitung sejak Raja Tarumanegara, yaitu antara abad ke V – VII. Richadiana mengatakan, setelah abad Raja Tarumanegara V sampai abad ke VII memang tidak ditemukan prasasti. Namun lontar Carita Parahiyangan mengisahkan adanya kehidupan raja-raja di Tanah Galuh pada abad VII, disusul kemudian adanya temuan prasasti abad VIII Juru Pangambat. Prasasti ini ditemukan di seputar prasasti Tarumanegara, yang mengisahkan tentang adanya seorang pejabat tinggi yang bernama Rakai Juru Pangambat.
Menurut Richadiana, prasasti Huludayueh yang ditemukan di Cirebon tahun 1990 mengisahkan bahwa antara abad 10 sampai 12 hidup seorang Raja bernama Pakuan. Sebelum itu ditemukan prasasti di Tasikmalaya yang dikenal dengan prasasti Rumatak. Prasasti berangka tahun 1.030 ini mengisahkan bahwa pada masa itu hidup seorang Raja Jaya Bupati.
“Sebenarnya kalau kita runut prasasti-prasasti itu sudah mengindikasikan adanya urutan sejarah klasik Sunda. Tidak ada peminat yang mempelajari sejarah klasik orang Sunda, selain orang Sunda sendiri. Itu yang menyebabkan sejarah Sunda seperti merana,”tegasnya.
PENJELASAN PRASASTI HULU DAYEUH
Sejarah Jawa Barat hingga kini memang masih agak gelap, bila dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Nusantara. Oleh karena itu setiap temuan arkeologi dari Jawa Barat senantiasa mengundang perhatian dan rasa penasaran para pakar kebudayaan yang menggumuli masalah sejarah Sunda (Jawa Barat).
Untuk itu dikemukakan beberapa hal yang berkenaan dengan Prasasti Hulu Dayeuy. Prasasti Hulu Dayeuh tersebut bukan berasal dari (Predu) Ratudewata, tetapi kemungkinan ada hubungannya dengan Jayadewata (Raja Pakwan-Pajajaran abad ke-15 Masehi). Raja ini sama dengan SriBaduga Maharaja atau Raden pamanah Rasa alias Sang Udubasu di dalam Carita Parahiyangan, sesuai dengan yang disebutkan dalam rasasti Hulu Dayeuh itu sendiri (baris ke-11). Tetapi belum berarti bahwa prasasti tersebut dikeluarkan oleh Raja Jayadewata.
Perlu kiranya diketahui bahwa Jayadewata tidak sama dengan Ratudewata. Kedua raja ini memerintah di Pakwan-Pajajaran tetapi personilnya berbeda. Bila Jayadewata memerintah pada tahun 1482-1521 Masehi (39 tahun) maka (Prebu) Ratudewata memegang tampuk Pakwan-Pajajaran tahun 1535-1543 Masehi (8 tahun).
Bagian atas batu yang diduga mencantumkan pertanggalan prasasti tesebut patah, dan aksaranya pun turut hilang serta sebagian lagi ada yang akur, sehingga kronologi prasasti belum dapat diketahui dengan pasti. Keausan aksara itu mungkin karena semula letak batu prasastinya terbalik dengan posisi bagian atas tertanam dalam tanah, namun kini batu tesebut telah diletakkan sebagaimana mestinya.
Bentuk hurufnya diketahui beraksasa Pasca Pallava, mirip dengan aksara dalam prasasti-prasasti masa Kayuwangi-Balitung (abad ke 9-10 Masehi), bukan Kayuwanci-Belitung seperti berita terdahulu. Demikianlah ralat ini, dan sama sekali tidak dimaksudkan menyinggung perasaan hanya sekadar membenarkan apa yang mungkin dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, dalam menginterpretasikan sejarah Jawa Barat, khususnya yang berkaitan dengan Prasasti Hulu Dayeuh.
Dalam hal ini saya merasa bertanggungjawab karena saya yang mengatakan keterangan di atas secara lisan kepada Bapak Muchtar MS ketika mengadakan penelitian arkeologi di daerah Sumber, Cirebon.
Sumber : www.keajaibandunia.web.id

Tamiya maenan tahun 2000an

Tamiya Incorporated (Kabushiki gaisha Tamiya) adalah sebuah perusahaan yang memproduksi mainan yang demikian dikenal sebagai Tamiya. Produk dari perusahaan ini sebenarnya bukan hanya model mainan mobil tetapi meliputi mainan (model) lain seperti mobil bertenaga baterei, mainan mobil bertenaga matahari (solar cell), mainan kapal, dan aneka model mainan lainnya.
dash-emperorPerusahaan ini didirikan oleh Yoshio Tamiya di Shizuoka, Japan pada tahun 1946. Model mainan Tamiya diproduksi dengan suatu perencanaan dan dalam konsep “mudah di pelajari dan dibangun, bahkan oleh seorang pemula”. Konsep ini diterapkan secara sungguh-sungguh dalam semua lini produk yang diluncurkan. Setiap bagian dari model diproduksi dengan tingkat ketelitian, akurasi, dan detil yang tinggi.



dash1-emperorPerusahaan Tamiya memperoleh reputasi dari para penggemar mainan miniatur karena kualitas serta akurasi skala pada model-model mainannya, sesuai dengan slogan yang pada logo perusahaan “Kualitas Pertama di se antero Dunia”.
Hal ini terbukti dengan telah dimenangkannya penghargaan bergengsi sebagai Modell des Jahres (Model tahun ini) yang di selenggarakan oleh majalah Berbahasa Jerman Model Fan, selama beberapa tahun.
Mini 4WD’s are reasonably priced and can be considered a learning experience for many kids. They are easy-to-assemble and a great first time hobby for kids and adults. It is something a parent and child can do together. The true appeal of Mini 4WD’s can be found in racing them. Many 4WD fans compete in events put on by local retailers. The excitement of Mini 4WD racing is not just making them go fast, but in analyzing and improving your car. This is what sets Mini 4WD racing apart from other activities for kids and has made it one of the fastest growing hobbies in the world.
–Tamiya USA–

Berikut ini adalah tahun & sejarah kelahiran Tamiya:

1946 : Yoshio Tamiya mendirikan pabrik penggergajian kayu di kota Shizuoka.
1947 : Divisi pembuatan model kit dari kayu dibentuk.
1953 : Pabrik penggergajian ditutup, Tamiya mengkhususkan diri pada pembuatan model kit dari kayu.
1960 : Tamiya, Inc. mulai memproduksi
1968 : Tamiya jadi perusahaan model kit pertama di Jepang yang ikut pameran di Nuremberg Toy Fair, Jerman.
1976 : Tamiya merilis R/C Porche 934 Turbo bertenaga listrik dengan skala 1/12. Rilis ini memacu popularitas mobil radio kontrol.
1977 : Shunsaku Tamiya jadi Presiden dan Pemimpin Eksekutif Tamiya Plastic Model, Co. Seri Mobil Sport mulai dipasarkan.
1981 : Tamiya meluncurkan Seri Sepeda Motor skala 1/12.
1984 : Shunsaku Tamiya diangkat menjadi Presiden dan Pemimpin Eksekutif Tamiya, Inc.
1987 : Mobil “Racing Mini 4WD” skala 1/32 yang diproduksi sejak setahun sebelumnya, mencapai total penjualan 10 juta unit.
1988 : Pendiri Tamiya, Inc., Yoshio Tamiya meninggal dunia pada usia 83 tahun.
1989 : Tamiya America, Inc. didirikan di Los Angeles, California, US. Masih pada tahun yang sama, dibuka cabangnya di Eropa.
1995 : Cabangnya di Filipina didirikan, Tamiya Philipines, Inc.
1996 : Tamiya Kakegawa R/C Circuit dibuka di Kakegawa, Shizuoka, Jepang.
A mini 4WD is a 1:32-sized battery powered plastic model race car without remote control. All 4 rubber-tired wheels are driven, thus “4WD” for 4 wheel drive. Side rollers secure the vehicle against the vertical walls of the un-banked track for steering, providing very fast speeds compared to slot or RC cars. In Japan, Mini 4WD is also known as mini yonku in Japanese. Though mostly popular in Asia, they have also been sold in the United States.
tamiya-proSince 1997, mini 4WD cars were sold in the United States, though some hobby stores installed tracks, interest in the US has declined somewhat. Beginning with Racing, Tamiya’s different Mini 4WD series include Super, Fully Cowled, Aero, and Mighty. Tamiya used to annually hold the Great Japan Cup, but the company stopped it in 1999 to promote their new product, “Dangun Racer”, begun in year 2000. The latest Tamiya Mini 4WD model is the “Mini 4WD Pro”, introduced in 2005. This is the fastest Mini 4WD product available out of the box, due to its super-efficient, completely redesigned internal layouts: polycarbonate body, double-shaft motor in the center, and the batteries on either side of the motor to allow low and balanced center of gravity.
–en.wikipedia.org–

thundershotmk2Selain Tamiya, perusahaan lain juga ikut meramaikan pasar mini 4WD, di antaranya Tokyo Marui, Kyosho, Academy, Auldey, Okami, Gokey, HJH, Twink, dan AA. Masing-masing dari mereka memperkenalkan rancangan tersendiri, Sementara beberapa produk masih berupa tiruan dari Tamiya. Tiruan tersebut menjadi alternatif bagi produk Tamiya yang mahal, namun tentu saja dengan kualitas yang tidak setara. Agar lebih populer, Tamiya menggandeng Shogakukan, perusahaan penerbitan Jepang, untuk membuat seri TV anime bertema mobil Mini 4WD. Judul-judul serinya antara lain: Dash! Yonkuro (1989), Let’s & Go (1996), Let’s & Go WGP, Let’s & Go MAX, dan akhirnya Let’s & Go!! Tamiya The Movie.